Alasan Sarri Tinggalkan Pekerjaannya Demi Jadi Pelatih Sepakbola

Punya pekerjaan yang tetap, gaji yang tetap dan nyaman biasanya jadi idaman banyak orang, namun tidak dengan Maurizio Sarri. Pelatih Juventus tersebut mengakhiri karirnya sebagai seorang Bankir, hanya demi bekerja sebagai pelatih sepakbola.

Perlu diketahui, Bankir sendiri bukan profesi yang buruk, demikian juga pelatih sepakbola. Semua tergantung pada pemikiran masing-masing orang. Tapi dalam kasus ini, Sarri menganggap menjadi pelatih sepakbola lebih menarik.

Mantan pelatih Napoli itu sudah memulai karirnya sebagai pelatih sejak beberapa tahuan silam. Dimulai dari menjadi pelatih Stia, kemudian menangani sejumlah klub amatir di Italia. Bisa dikatakan, dia tidak punya rekam jejak di Sepakbola, tapi kini jadi pelatih Juventus.

Dengan menangani Juventus, Sarri berpeluang besar meraih gelar Serie A Italia pertama dalam karirnya. Juventus sedang menempati puncak klasemen dan hanya membutuhkan empat poin saja untuk menyegel scudetto musim ini, atau yang ke-9 secara beruntun.

Berbicara mengenai keputusannya meninggalkan pekerjaan sebagai Bankir demi menjadi pelatih sepakbola, pria berusia 61 tahun itu mengakui bahwa dia sangat terobsesi dengan pekerjaan ini.

“Saya tidak berhenti karena saya berpikir akan menjadi pelatih hebat di Eropa. Saya meninggalkan bank karena bosan dan punya ‘passion’ ini, berharap bisa mendapatkan penghasilan dari ‘passion’ itu,” ungkap Sarri kepada Sky Sport Italia.

Namun Sarri menegaskan bahwa keputusannya tersebut tak serta merta didasari oleh faktor finansial. Dia hanya ingin menggeluti pekerjaan yang memang dia sukai, bahkan mantan pelatih Chelsea tak pernah memasang target besar dalam waktu dekat.

“Kadang, di dalam karir, anda bisa berada di tempat dan waktu yang tepat, jadi anda melakukan upaya yang lebih besar dari niatan awal. Niat awal saya adalah hidup dengan melakukan apa yang saya suka,” tutupnya.

Sekarang, Sarri sudah tinggal selangkah lagi meraih gelar juara Serie A Italia pertama sebagai pelatih. Dan pada bulan Agustus nanti, ia berpeluang untuk meraih trofi Liga Champions Eropa. Untuk target kedua ini, tampaknya akan lebih berat.

Apalagi, Juventus juga dalam posisi tertinggal 0-1 pada agregat 16 besar melawan Lyon. Leg kedua rencananya dilangsungkan pada Agustus mendatang di Turin.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *