Author: admin

Pelatih Zinedine Zidane angkat bicara tentang potensi tim asuhannya untuk merebut gelar juara La Lia Spanyol musim ini dari Barcelona. Menurut pelatih asal Prancis, semuanya bergantung pada para pemainnya sendiri.

Sejauh 33 pertandingan yang telah berlangsung, Real Madrid sudah mengumpulkan 74 poin dari 33 pertandingan dan berhak berada di puncak klasemen. Sementara itu, Barcelona yang berada di peringkat ke-2 baru mengoleksi 70 poin.

Dengan keunggulan empat poin itu, bisa dikatakan Real Madrid punya peluang yang besar untuk merebut gelar La Liga dari tangan sang rival abadi. Namun, masih ada lima pertadingan tersisa di musim ini, secara matematis semua kemungkinan masih bisa terjadi.

Andai Real Madrid bisa memenangkan lima laga terakhir, maka secara otomatis mereka akan menjadi juara. Pasalnya, Messi dkk hanya bisa meraih 85 poin saja jika berhasil memenangkan sisa pertandingan.

Dengan kata lain, Real Madrid sekarang ini hanya membutuhkan tambahan 11 poin lagi untuk bisa memastikan gelar juara musim ini. Jelas itu sangat mungkin diraih oleh Sergio Ramos dkk, meski tentu tidak akan mudah.

Pelatih Zinedine Zidane sendiri mengakui bahwa berhasil atau tidaknya Real Madrid meraih gelar Juara La Liga Spanyol musim ini tergantung pada performa para pemainnya sendiri.

Dengan tugasnya sebagai juru taktik, Zinedine Zidane hanya memberikan instruksi dari pinggir lapangan di setiap pertandingan, sisanya bergantung pada para pemain.

“Kuncinya adalah para pemain. Mereka yang bermain di lapangan dan mereka sadar bahwa ada momen-momen sulit. Tanpa pengorbanan tidak bisa rebut apapun dalam sepak bola.”

“Tugas saya adalah membuat arahan, kalau ada momen yang sulit, memberi ketenangan dan kesabaran, berpikir positif. Itu yang terjadi, tetapi merekalah yang berada di dalam lapangan dan mereka yakin dengan apa yang kami lakukan. Itu saja,” ujar Zidane kepada Situs resmi Madrid.

Real Madrid sendiri saat ini tengah bersiap untuk menghadapi lawan yang berat dalam lanjutan La Liga Spanyol, mereka akan berhadapan dengan Athletic Bilbao. Sedangkan Barcelona akan menghadapi Villarreal.

Read Full Article

Masa depan Sergio Ramos sedang jadi tanda tanya karena faktanya sampai saat ini belum ada kesepakatan kontrak baru dengan Real Madrid. Padahal, secara pribadi manajer Zinedine Zidane ingin agar sang kapten bertahan di Santiago Bernabeu.

Sudah 15 tahun Sergio Ramos mengenakan seragam kebanggaan Real Madrid. Pemain Spanyol ini direkrut dari Sevilla pada bursa transfer musim panas tahun 2005 silam. Sampai sekarang, dia tak pernah absen menghiasi barisan pertahanan Los Blancos.

Wajar saja, Ramos memang masuk dalam daftar bek terbaik dalam satu dekade terakhir ini. Bahkan, karena ketangguhannya mengawal pertahanan tim, Sang pemain akhirnya dipercaya menjadi kapten tim.

Selama 15 tahun, pemain berusia 24 tahun tersebut mempersembahkan sejumlah trofi, dengan total 21 gelar juara termasuk empat gelar Liga Champions Eropa.

Tak hanya tangguh dalam mengawal pertahanan, Ramos faktanya juga sering kali mencetak gol. Bahkan, dia tercatat sebagai sosok bek paling produktif di Spanyol saat ini. Hanya saja, saat ini kontraknya di Real Madrid tersisa satu musim lagi.

Sedangkan di satu sisi, belum ada kesepakatan kontrak anyar yang tercapai antara kedua pihak. Terkait hal ini, pelatih Zinedine Zidane berharap agar klub segera menuntaskan kontrak baru Ramos, dia bahkan ingin sang Kapten bertahan hingga pensiun di Real Madrid.

“Sergio termasuk di sini sebagai pemain. Ia sudah di sini selama bertahun-tahun dan ia harus pensiun di sini. Itu yang saua pikirkan dan saya akan mempertahankannya,” seru Zidane seperti dilansir Sportsmole.

Sebelum Zidane, ada Predrag Mijatovic yang juga menyarankan Madrid untuk memperpanjang kontrak Ramos. Baginya, kehilangan Ramos akan berdampak besar bagi sang mantan klub, sama seperti saat mereka kehilangan Cristiano Ronaldo.

“Jika saya berada di klub, saya tidak akan membiarkan pemain seperti Cristiano [Ronaldo], Sergio Ramos atau Luka Modric pergi,”

“Mereka adalah pemain yang meskipun kehilangan sedikit kebugaran selama bertahun-tahun, mereka selalu positif untuk para pemain yang akan datang,” kata Mijatovic.

Selama 15 tahun membela Madrid, Ramos sudah mencatatkan 644 penampilan dengan torehan 69 gol sejauh ini.

Read Full Article

Paul Pogba akhirnya sudah benar-benar pulih setelah sempat absen lama karena cedera parah. Namun, kehadiran Bruno Fernandes yang tampil cemerlang bisa membuat pelatih Ole Gunnar Solskjaer kebingungan. Lantas, apa rencana manajer asal Norwegia?

Pada kampanye musim 2019/20 ini, gelandang Timnas Prancis tersebut memang jarang memperkuat Manchester United. Sang gelandang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang perawatan karena cedera.

Cedera terakhirnya adalah yang terparah, bahkan awalnya dia diprediksi tidak bisa bermain lagi sampai musim ini berakhir. Tapi, berkat pandemi virus corona, Pogba berkesempatan untuk bermain lagi, setidaknya sebelum kampanye musim ini berakhir.

Kini Pogba sudah siap bermain lagi, dan pelatih Ole Gunnar Solskjaer mengakui bahwa dia menaruh harapan besar pada pemain Prancis.

“Seperti pemain kami yang lain, saya ingin Paul bisa memberikan yang terbaik untuk tim ini,” ujar Solskjaer kepada situs resmi MU.

Namun, yang membuat penasaran adalah fakta bahwa Manchester United saat ini sudah memiliki sosok Bruno fernandes yang sejak musim dingin kemarin tampil cemerlang.

Mengenai hal tersebut, Ole Gunnar Solskjaer mengakui bahwa dia berencana untuk tidak akan langsung menurunkan sang pemain secara penuh.

Bukan terkait dengan Bruno Fernandes, tapi menurut Solskjaer, Pogba masih baru pulih dari cedera sehingga lebih baik untuk membiarkanya beradaptasi seiring berjalannya waktu.

“Paul adalah salah satu gelandang terbaik di dunia. Jadi kami berharap kondisinya bisa terus membaik sembari ia mendapatkan jam bermain lebih banyakj dari hari ke hari.” Tandasnya.

Yang jelas, menurut sang juru taktik, Pogba akan sangat dibutuhkan oleh Manchester United di sisa musim ini.

“Saya tak tahu apakah ia akan bermain selama 45 menit atau 60 menit kali ini. Namun perlahan-lana kami akan mencoba mengembalikannya ke performa terbaiknya Paul adalah seorang pemenang Piala Dunia, jadi kami membutuhkan kepemimpinannya di atas lapangan.” ujarnya.

Manchester United sendiri akan berhadapan dengan Tottenham Hotspur dalam lanjutan Premier League dinihari WIB nanti. Kemungkinan besar, Pogba tidak akan diturunkan sebagai starter dalam laga tersebut.

Read Full Article

Yossi Benayoun memuji dampak kehadiran manajer Jurgen Klopp di Liverpool, karena menurutnya pelatih asal Jerman adalah sosok dibalik kebangkitan The Reds. Andai saja tidak ada Klopp, dia yakin Liverpool masih jadi tim yang pesakitan.

Klopp datang untuk menangani Liverpool sejak Oktober 2015 silam. Ia mendapatkan pekerjaan itu setelah manajemen Tim Marseyside memecat Brendan Rodgers, seiring dengan rangkaian hasil buruk yang didapat klub kala itu.

Pada awalnya, sebagai manajer yang baru mencicipi Premier League dan dibekali skuat seadanya, Klopp tampak kesulitan. Liverpool masih tampak biasa saja dibawah racikan pelatih asal Jerman ini.

Tapi perlahan, Mantan manajer Borussia Dortmund tersebut mulai membuat Liverpool kembali bertaji. Musim lalu mereka berhasil memenangkan trofi Liga Champions Eropa untuk pertama kalinya bagi Liverpool sejak tahun 2005 silam.

Sedangkan musim ini, Liverpool tinggal selangkah lagi untuk memenangkan gelar Premier League pertama mereka dalam 30 tahun terakhir.

Penampilan Liverpool secara keseluruhan membuat banyak pihak merasa kagum, tak terkecuali Yossi Benayoun.

“Anda bisa melihat komitmen para pemain begitu spesial. Saya tidak melihat ada tim di Eropa yang pemainnya seberkomitmen mereka, di mana dari penyerang hingga penjaga gawang mereka bekerja bersama untuk menekan lawan.”

“Ketika mereka memutuskan untuk menekan lawan, mereka menekan dengan kesebelas pemain mereka dan tidak ada tim yang bisa melawan mereka.” Ujar Benayoun.

Menurutnya, performa apik Liverpool dalam beberapa musim terakhir ini tak terlepas dari peranan Jurgen Klopp. Bahkan jika bukan karena mantan pelatih Dortmund tersebut, Liverpool tentu masih berkutat di papan tengah sebagai tim medioker.

“Mereka bisa seperti ini tentu berkat jasa bersar Jurgen Klopp. Saya rasa ia menghadirkan perbedaan besar dari tim-tim Liverpool sebelumnya. Saya pribadi sangat senang menonton mereka bertanding. Semoga saja mereka bisa lanjut seperti ini dan membuat kita semua bangga.” Tandasnya.

Adapun, Premier League dalam waktu dekat akan kembali digulirkan setelah hampir tiga bulan libur karena pandemi virus Corona. Liverpool dan ke-19 Klub EPL lainnya akan mulai bertanding kembali pada tanggal 17 Juni 2020 nanti.

Read Full Article

Gelandang Amerika Serikat Christian Pulisic dianggap beruntung dengan kehadiran Frank Lampard di kursi manajer Chelsea saat ini. Sang legenda klub dirasa mampu mengelola dan mengembangkan potensi skuat muda The Blues.

Memang harus diakui bahwa eks Timnas Inggris itu cukup jeli dalam menangani pemain muda berbakat, Puisic adalah contohnya. Lampard mau bersabar, menunggu dan membimbing eks Dortmund yang sejatinya tengah beradaptasi dengan gaya sepakbola Inggris.

Pulisic d satu sisi memikul ekspektasi yang besar. Banderolnya yang tinggi dan penampilan apik selama masih berkarir di Bundesliga Jerman membuat Pemain berusia 24 tahun ini harus memberikan yang terbaik di setiap pekannya.

Namun performa Pulisic di awal musim ini tak sesuai harapan. Dia tidak bisa langsung tampil apik karena cedera dan masalah adaptasi.

Memang, eks Dortmund ini sempat menunjukkan performa apik, contohnya saat mencetak hattrick di ajang Liga Champions Eropa. Akan tetapi, yang bersangkutan kemudian menepi karena cedera sejak awal tahun ini.

Namun begitu, pelatih Frank Lampard tampak masih sabar menangani para penggawa anyar dan pemain muda seperti Christian Pulisic. Karenanya, McBride menyanjung mantan pelatih Derby County tersebut.

“Saya kira itulah sisi positif memiliki pelatih yang pernah bermain di level tinggi, sebab Frank sangat sabar menangani Christian sejak awal,”

“Christian pindah ke negara baru, bergabung dengan tim baru, dan harus membuktikan dirinya di liga baru. Jelas ada tekanan baginya untuk langsung memberikan yang terbaik, tapi Frank tahu Pulisic butuh waktu untuk beradaptasi.” ujar McBride di laman resmi Chelseafc.

McBride sendiri sama seperti Christian Pulisic, berasal dari Amerika Serikat dan pernah mengecap pengalaman berkarir di Inggris. Dia yakin, sang gelandang akan tampil cemerlang seiring berjalannya waktu.

“Kita tidak tahu pasti apa yang terjadi di balik layar, tapi jelas kesabaran Lampard itu memberi waktu bagi Christian untuk menyesuaikan diri, beradaptasi, dan mencoba masuk ke dalam tim,”

“Dia bisa memahami bagaimana Chelsea dan Frank ingin
melihatnya bermain. Lalu, ketika waktunya tepat, Frank akan benar-benar melepasnya,” tutupnya.

Read Full Article

Sebagai pelatih yang dikenal cermat dalam melihat potensi pada bakat muda, Pep Guardiola justru membuat legenda Jerman, Lothar Matthaus merasa keheranan. Tepatnya soal keputusan eks pelatih barcelona itu membiarkan kepergian Jadon sancho.

Perlu diketahui, Jadon Sancho memang merupakan salah satu pemain jebolan akademi Manchester city. Namun, pemain berusia 19 tahun itu kesulitan mendapatkan tempat di tim utama. Akhirnya, dia memutuskan hengkang ke Borussia Dortmund pada tahun 2017.

Tentu saja tujuannya hengkang tak lain untuk mendapatkan kesempatan bermain lebih banyak. Dortmund sendiri cukup beruntung, karena mendapatkan Sancho dengan harga yang relatif sangat murah, 8 Juta Euro.

Sejak merapat ke klub Bundesliga Jerman, bisa dikatakan karir dan performa Jadon Sancho meningkat pesat. Pada musim ini, pemain Timnas Inggris sudah mencetak 17 gol dan 19 assist dalam 36 pertandingan di semua kompetisi.

Kini, nama Jadon Sancho ramai jadi perbincangan, dan legenda Jerman Lotthar Matthaus tampak senang dengan perkembangan sang pemain. Dia mengaku sudah melihat bakat Sancho sejak yang bersangkutan masih bermain di Timnas Inggris U-17 pada ajang Euro U-17.

Bahkan, dia sudah memprediksi bahwa Jadon Sancho saat itu akan jadi pemain Top di masa mendatang.

“Saya sedang menonton di gym dan saya menghentikan sesi latihan untuk memanggil teman saya yang bekerja di sana untuk bertanya, ‘Siapa pemain Inggris di sayap kiri?’”

“Teman saya memberi tahu saya, ‘Namanya Sancho dan dia bermain untuk Manchester City.’ Saya pikir ‘Wow! Dia adalah pemain hebat dan dia akan memiliki karier yang hebat’.” kata Matthaus kepada Goal.

Prediksinya memang tepat, namun yang mengejutkan bagi Matthaus adalah fakta bahwa Pep Guardiola bisa melepas talenta muda berbakat seperti itu.

“Kemudian, dia menandatangani kontrak dengan Dortmund enam bulan kemudian dan saya berkata, ‘Bagaimana Pep Guardiola bisa membiarkan pemain hebat ini pergi?’.”

“Saya tidak memahaminya saat itu, karena saya tahu Guardiola memiliki mata yang bagus untuk bakat muda. Dan Sancho memiliki kecepatan, membuat assist, mencetak gol dan selalu berlari.” Tandasnya.

Read Full Article

Teknik Penalti Panenka, merupakan salah satu teknik penalti yang sangat populer di Sepakbola. Jika dilihat, teknik ini terlihat sangat mudah, bahkan tidak membutuhkan banyak energi. Akan tetapi, hanya segelintir pemain yang berani menerapkannya dalam laga resmi.

40 tahun silam adalah saat dimana teknik ini diperkenalkan atau tepatnya diciptakan pertama kali oleh Antonin Panenka. Hebatnya lagi, teknik tersebut diperkenalkan Panenka dalam drama adu penalti di Final Euro 1976 melawan Jerman Barat.

Dia berhasil melakukan teknik penalti baru tersebut, dan sejak saat itu teknik ini mulai ramai diperbincangkan.

Tentu saja, ada beberapa pemain yang langsung mencoba meniru gaya panenka, tapi tingkat keberhasilannya bisa dikatakan sangat kecil. Bahkan, pengalaman dan teknik tinggi seorang pemain tak jadi jaminan keberhasilan penalti panenka ini.

Sebut saja Andrea Pirlo, kita tahu persis kualitas legenda AC Milan dan Italia ini. Namun nyatanya, dia gagal saat pertama kali mencoba teknik Panenka ke gawang Barcelona di ajang Joan Gamper Trophy pada tahun 2010 silam.

Kemudian jangan lupakan momen mengecewakan kiper Mickael Landreau, dengan rekor bagus dari titik 12 pas. Trik Panenkanya gagal, dimana itu membuang kesempatan membawa Nantes memenangi final Piala Liga Prancis 2004 ketika melawan Sochaux di partai final.

Masih ada banyak contoh lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Yang jelas, selain teknik dan pengalaman, butuh keberanian dan keyakinan yang tinggi untuk bisa menggunakan teknik Panenka ini, terlebih dalam sebuah laga besar.

Tapi, ada cukup banyak pemain dan legenda sepakbola yang berhasil meniru gaya penalti panenka ini. Misalnya saja Francesco Totti, yang berperan membawa Italia mengalahkan Belanda dalam adu penalti di semifinal Euro 2000.

Kemudian ada Zinedine Zidane saat melawan Italia, pada menit 7 final Piala Dunia 2006, yang membawa Prancis unggul lebih dulu atas Italia.

Lionel Messi juga beberapa kali sempat mencoba teknik panenka ini, dengan tingkat keberhasilan 100 persen. Jangan lupakan juga bek sekaligus kapten Real Madrid, Sergio Ramos, yang tampak sangat tenang setiap kali melakukan trik ini.

Read Full Article

Gerard Pique memang hobi menyulut amarah para fans Real Madrid. Di tengah-tengah pandemi Corona yang minim aktivitas, bek andalan Barcelona tersebut menyindir klub rival dengan mengunggah tayangan ulang kemenangan telak di Santiago Bernabeu 11 tahun silam.

Pemain Spanyol tersebut memang begitu verbal saat membahas tentang Real Madrid, entah di depan media maupun di sosial media. Pique bahkan pernah berbalas Tweet dengan eks El Real, Alvaro Arbeloa.

Kedua sosok ini pernah terlibat cekcok halus di sosial media, padahal mereka adalah rekan satu tim di Tim Nasional Spanyol. Sedangkan di atas lapangan, Gerard Pique juga kerap terlibat friksi dengan pemain Real Madrid, terutama dalam laga el Clasico.

Nah, baru-baru ini suami Shakira tersebut kembali memancing amarah para fans Real Madrid. Pada 2 Mei lalu, dia mengunggah tayangan ulang kemenangan telak 6-2 yang diraih Barcelona saat bertandang ke Santiago Bernabeu di tahun 2009 silam.

Sebagai informasi, pada pertandingan el Clasico tersebut, Pique tampil selama 90 menit penuh. Bahkan dia juga ikut menyumbangkan satu gol pada menit ke-82. Sedangkan lima gol lainnya dicetak oleh Henry (2 gol), Messi (2 gol) dan Carles Puyol.

Tuan Rumah Real Madrid hanya mampu membalas dengan dua gol yang masing-masing dicetak Sergio Ramos dan Gonzalo Higuain.

Menariknya, mantan Kapten Real Madrid, Iker Casillas rupanya tidak tinggal diam dengan unggahan tersebut. Sosok yang kini membela FC Porto tersebut membalas Tweet dari Pique dengan isyarat rangkaian angka-angka.

11 + 2 = 13. 11 adalah angka yang ditulis Gerard Pique dalam caption di video unggahannya. 11 yang dimaksud Gerard Pique merujuk pada momen 11 tahun lalu, ketika Barcelona menang besar di kandang Real Madrid.

Lantas, apa maksud angka 13 dari Iker Casillas? Dikutip dari Marca, 13 yang dimaksud adalah 13 gelar juara yang diraih Real Madrid di Liga Champions Eropa.

Sebagai informasi, Madrid jadi tim yang mengoleksi gelar Liga Champions Eropa terbanyak sepanjang masa. Total 13 trofi di panggung elit Eropa tersebut dimenangkan Los Blancos sejauh ini. Sedangkan Barca, baru mengoleksi lima.

Read Full Article

Legenda Manchester United, Bryan Robson kembali melemparkan pujian kepada rekrutan anyar Setan Merah, Bruno Fernandez. Dalam pandangannya, pemain asal Portugal tersebut adalah titisan dari legenda klub, Paul Scholes.

Sebagai informasi, Bruno Fernandez belum lama jadi pemain Manchester United. Gelandang berusia 25 tahun itu baru bergabung pada bursa transfer musim dingin Januari 2020 kemarin. Dia ditebus dari Sporting CP seharga 55 juta Euro.

Meski baru bergabung, tapi sang pemain sudah mampu memberikan dampak yang besar bagi skuat MU. Dalam kurun waktu sekitar satu setengah bulan, dia sukses mencetak tiga gol dan empat assist di semua ajang untuk pasukan Ole Gunnar Solskjaer.

Bryan Robson pun mengakui bahwa performa Manchester United dengan Bruno Fernandez di dalamnya tampak menjanjikan sebelum kompetisi ditangguhkan karena pandemi Corona.

“Performa tim ini sebelum lockdown benar-benar menjanjikan,” ujar Robson kepada The Daily Mail.

Lebih lanjut dalam keterangannya, legenda Manchester United tersebut menganggap Bruno Fernandez sudah mampu jadi pemain kunci dalam waktu singkat. Dia menilai gelandang Portugal sangat mirip dengan legenda klub, Paul Scholes.

“Indikasi yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa Ole Gunnar Solskjaer sudah mengambil langkah yang tepat. Ini terbukti dari perekrutan Bruno Fernandes yang benar-benar luar biasa.”

“Dia terlihat seperti seorang pemain United. Ia memiliki sikap yang bagus, dan ia adalah pemain yang paling menyamai Paul Scholes dalam aspek teknik, lalu bagaimana cara ia mencari ruang, dan bagaimana nalurinya untuk menendang bola.” Tandansya,

Andai kompetisi musim ini kembali bergulir, dan Bruno masih jadi andalan bersama dengan Scott McTominay di lini tengah, ditambah kembalinya Marcus Rashford dari cedera, menurutnya MU tidak akan terhentikan.

“Jika kita mengombinasikan kemampuannya dengan Scott McTominay yang semakin berkembang dan Marcus Rashford yang kembali fit, maka segalanya terlihat akan semakin baik untuk United.” ujarnya.

Manchester United saat ini tengah berupaya untuk lolos ke Liga Champions musim depan. Saat ini, pasukan Solskjaer berada di posisi ke-5, tertinggal empat poin saja dari Chelsea yang ada di empat besar.

Read Full Article

Mantan kiper Manchester United, Mark Bosnich percaya, dengan hanya merekrut beberapa pemain yang tepat, bekas klubnya bakal jadi kandidat juara pada kampanye Premier League musim depan.

Manchester United memang sulit bersaing dalam perburuan gelar juara sejak Sir alex Ferguson memutuskan pensiun di tahun 2013 silam. Sejauh ini, Prestasi terbaik Setan Merah di Liga adalah runner up pada kampanye musim 2017/18 silam.

Setelah itu, jangankan untuk finish sebagai juara, Manchester United bahkan kesulitan untuk menembus empat besar klasemen akhir. Namun belakangan ini ada rasa optimise yang kuat di kalangan pendukung Manchester United.

Banyak yang menilai bahwa Setan Merah dibawah arahan Ole Gunnar Solskjaer mulai memperlihatkan tanda-tanda peningkatan performa. Bosnich-pun mengamini hal tersebut, peningkatan MU menurutnya cukup signifikan belakangan ini.

“Saya tidak mengatakan bahwa mereka akan langsung jadi penantang gelar juara, namun mereka saat ini mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan,” ujar Bosnich kepada Sky Sports.

Lebih lanjut, penjaga gawang asal Australia tersebut menilai bahwa Setan Merah hanya membutuhkan beberapa rekrutan anyar yang tepat untuk menjadi kandidat juara musim depan.

“Mereka menjalani momentum yang sangat bagus sebelum kompetisi ditangguhkan. Dia [Solskjaer] mungkin butuh memperkuat timnya tergantung siapa yang pergi dari timnya.”

“Siapapun pemain yang akan pergi, dengan tambahan beberapa pemain kelas dunia di tim mereka, maka mereka akan menjadi penantang gelar yang serius cepat atau lambat.” Tandasnya.

Diapun meminta kepada para fans Manchester United untuk lebih bersabar, pasalnya Solskjaer saat ini sedang membangun proyek yang tepat untuk masa depan klub kesayangan mereka.

“Satu hal yang saat ini kurang adalah kesabaran. Saya sering mengutip cerita bagaimana Direksi klub memberikan kesabaran yang besar kepada Sir Alex Ferguson di masa lalu. Anda sendiri bisa melihat ke mana arah tim ini bersama Solskjaer.” ujarnya.

Kabarnya, Manchester United saat ini sedang targetkan sejumlah pemain untuk direkrut pada bursa transfer mendatang. Termasuk diantaranya adalah gelandang Jack Grealish, winger Jadon Sancho dan striker Inggris, Harry Kane.

Read Full Article